Bengkulu, Tintabangsa.com – Upaya penanganan bencana abrasi di wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara akhirnya tuntas. Melalui langkah cepat dan terukur, Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu berhasil menyelesaikan pekerjaan tanggap darurat penanganan abrasi dengan progres mencapai 100 persen.
Sebelumnya, abrasi yang terus menggerus garis pantai di beberapa wilayah Bengkulu Utara menimbulkan kerusakan serius. Bahkan, badan jalan yang berada di tepi pantai sempat terancam putus sehingga membahayakan aktivitas masyarakat serta mengganggu akses transportasi di kawasan tersebut.
Sebagai langkah penanganan, Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu membangun pengamanan pantai di empat titik lokasi strategis. Pekerjaan utama berupa pembangunan revetment pasangan batu dengan total panjang 346 meter yang tersebar di tiga titik, yakni sepanjang 245 meter di Desa Durian Daun serta 65 meter dan 36 meter di Desa Urai.

Struktur revetment tersebut berfungsi menahan energi gelombang laut sekaligus memperlambat laju abrasi yang selama ini mengikis garis pantai. Dengan adanya pengamanan ini, kawasan pesisir diharapkan lebih terlindungi dari ancaman kerusakan akibat gelombang laut yang terus menerus menghantam daratan.
Selain pembangunan revetment, di Desa Urai juga dilakukan pemasangan geotube sepanjang 122 meter. Infrastruktur ini difungsikan sebagai pelindung tambahan bagi fasilitas umum yang berada di belakang kawasan pantai, khususnya untuk mengurangi risiko banjir rob yang kerap terjadi saat pasang tinggi.
Selesainya pekerjaan ini diharapkan mampu memberikan perlindungan lebih baik bagi infrastruktur pesisir, terutama akses jalan yang menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat setempat. Keberadaan pengamanan pantai tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan wilayah pesisir Bengkulu Utara dalam menghadapi ancaman abrasi di masa mendatang.
Balai Wilayah Sungai Sumatera VII menegaskan bahwa penanganan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga kawasan pesisir serta melindungi masyarakat dari dampak bencana alam, sekaligus memastikan infrastruktur vital tetap berfungsi dengan baik.(ADV)

