Lhokseumawe,Tintabangsa.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe menerapkan pembinaan berbasis ala dayah bagi warga binaan guna meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama.
Kepala Seksi Bimbingan Anak Didik Lapas Kelas IIA Lhokseumawe Yusri di Lhokseumawe, Kamis, mengatakan bahwa didirikannya Pesantren At Taubah tersebut bertujuan agar nantinya warga binaan akan semakin bertambah wawasan dan ilmu pengetahuan agamanya.
“Antusias santri warga binaan di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe sangat tinggi untuk menimba ilmu agama di Pesantren At Taubah. Saat ini total santri yang mondok sudah mencapai 100 orang,” katanya.
Dikatakan Yusri, ustad yang mengisi materi pembelajaran didatangkan dari tokoh masyarakat dan dayah-dayah yang ada di seputaran Kota Lhokseumawe serta ustad di lapas itu sendiri.
Yusri mengharapkan warga binaan di dalam lapas bisa dibekali ilmu keagamaan lebih banyak lagi dan lebih tertata karena ada jadwal dan pengajar menggunakan kurikulum pesantren seperti yang di luar.
“Mudah-mudahan program kurikulum ala dayah ini bisa menjadi bekal dalam hidup warga binaan dan tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan, hingga harus kembali berurusan dengan masalah hukum,” katanya.
Guru Didik Pesantren At Taubah Lapas Kelas IIA Lhokseumawe Tgk Ali Imran mengatakan di pondok pesantren ini nantinya para santri akan diberikan ilmu pengenalan dasar-dasar ilmu agama.
“Warga binaan di lapas tersebut sudah banyak memiliki kemampuan menghafal Al-Quran, namun tidak seimbang jika tidak dapat memahami dasar-dasar ilmu fiqih dan ilmu-ilmu lainnya dalam agama Islam,” katanya.
Untuk dapat mondok di pesantren tersebut, kata Tgk Ali Imran, warga binaan harus memenuhi syarat yang sudah ditentukan seperti sudah lancar membaca Al-Quran.
“Mereka akan dinilai, dikategorikan A yang sudah lancar, kategori B bisa membaca tapi belum lancar, kategori C belum bisa membaca tapi punya niat tinggi untuk belajar. Pada dasarnya kita terus membina warga binaan agar dapat membaca kitab suci Al-Quran,” katanya.
Tgk Ali Imran mengharapkan dengan adanya pondok pesantren At Taubah ini dapat mencetak warga binaan yang berakhlakul karimah, sehingga tidak ada lagi timbul pemahaman dari masyarakat bahwa tidak semua di dalam lapas itu brutal dan tidak terarah.
“Mudahan dengan adanya pesantren di Lapas Lhokseumawe nantinya warga binaan akan semakin bertambah terarah, sehingga apabila bebas bisa jadi guru ngaji, pintar berkhutbah bahkan bisa menjadi ustad dan menjadi tauladan di tengah masyarakat,” tutup Tgk Ali Imran.
(RI/TB)

