Jalan putus di Talang Ratu, jembatan gantung rusak akibat banjir di berbagai wilayah, hingga genangan yang tak surut di jalan jembatan Air Pauh menjadi potret krisis infrastruktur yang menghambat kehidupan warga Lebong.
Lebong, tintabangsa.com – Di Kabupaten Lebong, bencana tak hanya meninggalkan jejak kerusakan, tetapi juga memutus nadi kehidupan. Jalan amblas di satu titik, jembatan gantung runtuh di titik lain—bahkan di lokasi berbeda, jalan berubah menjadi genangan seperti kolam. Semua mengarah pada satu persoalan besar: rapuhnya infrastruktur di tengah tekanan alam yang terus berulang.
Di Desa Talang Ratu, Kecamatan Rimbo Pengadang, sebuah ruas jalan kini nyaris terputus akibat abrasi. Jalan ini bukan sekadar penghubung biasa. Ia adalah akses utama yang menghubungkan Kabupaten Lebong dengan Kabupaten Rejang Lebong—jalur vital bagi mobilitas warga dan distribusi logistik.
Ketika jalan itu amblas, aktivitas warga ikut tersendat. Hasil bumi terhambat keluar, kebutuhan pokok tersendat masuk. Dalam sekejap, dampak kerusakan terasa hingga ke sendi-sendi ekonomi masyarakat.
Di tengah kondisi itu, Anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi, Senin (11/5/2026) datang meninjau langsung lokasi. Ia tidak datang sendiri. Bersamanya turut hadir mitra kerja dari Kementerian Pekerjaan Umum, yakni Balai Wilayah Sungai Sumatera VII, didampingi Anggota DPRD Kabupaten Lebong Fraksi NasDem, Alpi Haryono, Babinsa Rimbo Pengadang, serta masyarakat setempat.




Kehadiran rombongan ini bukan sekadar melihat kerusakan dari dekat. Lebih dari itu, kunjungan tersebut membuka kemungkinan baru: penanganan yang tidak lagi berhenti di tingkat daerah atau provinsi, melainkan didorong hingga ke pemerintah pusat.
Dari peninjauan itu, muncul satu arah solusi yang mulai mengerucut. Penanganan dinilai perlu ditarik ke pusat agar percepatan bisa dilakukan, dengan catatan adanya dorongan resmi dari pemerintah daerah.
“Karena bu Erna sudah lihat kondisi pasca bencana ini, Nanti harapannya tidak lagi kita repot ke provinsi, kita langsung sampaikan ini di pusat. Tapi harus ada penyampaian dari bupati,” ujar Alpi Haryono.
Namun, krisis infrastruktur di Lebong tidak berhenti di Talang Ratu.
Di Kelurahan Tes, Kecamatan Lebong Selatan, persoalan lain muncul dengan wajah berbeda. Di kawasan Jembatan Air Pauh, ruas jalan justru digenangi air hingga menyerupai kolam. Kondisi ini disebut terjadi berulang dan semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

“Sudah seperti kolam,” kata Alpi Haryono menggambarkan kondisi genangan tersebut.
Genangan yang terus terjadi ini menambah daftar panjang persoalan infrastruktur di Lebong—bukan hanya yang rusak dan putus, tetapi juga yang perlahan menghilangkan fungsi karena terendam air.
Di berbagai wilayah lain, banjir bahkan telah merusak sedikitnya 11 jembatan gantung di beberapa wilayah.



Jembatan-jembatan ini selama ini menjadi penghubung utama dari hasil tani masyarakat menuju desa, bahkan satu-satunya akses bagi sebagian masyarakat.
Bupati Lebong, Azhari, melihat keseluruhan persoalan ini sebagai satu rangkaian yang saling berkaitan. Baginya, membangun ulang tanpa memahami penyebab hanya akan mengulang siklus kerusakan.

“Masyarakat tentu ingin yang rusak segera dibangun. Tapi kalau kondisi airnya masih seperti sekarang, bisa saja nanti rusak lagi,” ujarnya.
Karena itu, pendekatan yang diambil tidak berhenti pada pembangunan fisik. Pemerintah daerah mulai mendorong kajian menyeluruh, termasuk melibatkan ahli konstruksi dan tata kelola perairan untuk mencari solusi jangka panjang.
“Kalau perlu reboisasi, itu tidak selesai dalam hitungan bulan, bisa tahunan,” kata Azhari.
Di saat yang sama, langkah cepat tetap diupayakan. Pemerintah Kabupaten Lebong sedang menyiapkan pengajuan bantuan ke berbagai pihak, mulai dari BNPB, TNI, hingga Komisi V DPR RI.
Keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri. Membangun kembali jalan, memperbaiki genangan, dan merehabilitasi belasan jembatan dalam waktu bersamaan bukanlah perkara ringan bagi APBD.
“Kalau ada bantuan dari arah manapun untuk percepatan, kenapa tidak,” ujar Azhari.
Koordinasi dengan pemerintah pusat pun mulai diperkuat, termasuk dengan Erna Sari Dewi. Pemerintah daerah memastikan proposal bantuan segera diajukan sebagai langkah konkret percepatan penanganan.
Kini, masyarakat berada dalam satu situasi yang sama di berbagai titik: menunggu. Menunggu jalan yang tersambung kembali, jembatan yang berdiri lagi, dan genangan yang surut agar akses kembali normal.
Krisis infrastruktur di Lebong hari ini menjadi gambaran utuh bahwa persoalan tidak berdiri sendiri. Jalan putus, jembatan runtuh, hingga genangan air adalah bagian dari satu sistem yang membutuhkan penanganan menyeluruh.
Dan di antara semua itu, harapan masyarakat tetap sederhana: akses yang pulih, dan kehidupan yang kembali berjalan.

