BENGKULU TENGAH, TINTABANGSA.COM,-Proyek revitalisasi SMK Taruna Kelautan dan Perikanan (KP) Bengkulu senilai sekitar Rp3,2 miliar kini menjadi sorotan tajam. Tujuh gedung yang dibangun melalui anggaran revitalisasi tahun 2025 hingga kini belum juga dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Ironisnya, salah satu bangunan dilaporkan dalam kondisi miring, retak, dan diduga mengalami penurunan struktur meski proyek belum lama selesai dikerjakan.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat adanya persoalan serius dalam pelaksanaan proyek. Kepala SMK Taruna KP Bengkulu, Despi Rizkina, mengakui pihak sekolah belum berani menggunakan bangunan itu karena dinilai belum layak dan saat ini masih dalam pemeriksaan penyidik Polres Bengkulu Tengah. “Kami belum berani menggunakan gedung ini karena memang kondisinya rusak dan masih diperiksa pihak Polres Bengkulu Tengah. Hanya gedung WC saja yang sesekali dipakai,” ujarnya. Salah satu gedung ruang praktik siswa terlihat miring, lantai merenggang, dan dinding mengalami retakan. Dari sisi belakang, bangunan tampak turun diduga akibat berdiri di atas area rawa.
Akibat proyek yang bermasalah tersebut, aktivitas belajar mengajar siswa hingga kini masih menggunakan gedung lama yang sebagian besar semi permanen dan jauh dari standar revitalisasi yang dijanjikan pemerintah. Despi juga membenarkan dirinya bersama ketua yayasan dan sejumlah pihak telah diperiksa penyidik terkait proyek tersebut. Ia menegaskan saat proyek berjalan dirinya masih menjabat bendahara sekolah dan tidak dilibatkan dalam proses pekerjaan.(dirilis dari Tribun Bengkulu)
Di tengah mencuatnya dugaan penyimpangan, sikap Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu justru menuai kritik. Saat dikonfirmasi, Kabid SMK Dikbud Provinsi Bengkulu hanya meminta wartawan datang langsung ke sekolah dengan alasan proyek tersebut bersifat swakelola.Minggu (10/5/2026).
Pernyataan itu dinilai sebagai bentuk lempar tanggung jawab, padahal diduga proyek revitalisasi SMK berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan memiliki peran penting mulai dari proses perencanaan, pengawasan pekerjaan, administrasi pencairan anggaran, koordinasi pelaksana proyek hingga memastikan kesesuaian fisik bangunan dengan spesifikasi teknis. Namun saat ditanya terkait dugaan penyimpangan proyek revitalisasi SMK Kelautan dan Perikanan tahun 2025, Kabid SMK Rainer memilih bungkam.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena anggaran miliaran rupiah yang seharusnya meningkatkan kualitas pendidikan justru menghasilkan bangunan rusak dan belum bisa digunakan. Sementara proses pemeriksaan oleh Polres Bengkulu Tengah masih terus berjalan untuk mengungkap ada tidaknya penyimpangan dalam proyek revitalisasi tersebut.(TB)

