Kopi Kepahiang Naik Kelas, Ekspor Perdana ke Italia Buka Jalan UMKM Bengkulu ke Pasar Dunia

KEPAHIANG, Tintabangsa.com – Aroma kopi dari dataran tinggi Kepahiang kini mulai menembus pasar internasional. Kopi yang dikembangkan pelaku usaha lokal tak lagi hanya menyasar penikmat kopi di dalam negeri, tetapi mulai diperkenalkan ke pasar Eropa melalui ekspor perdana ke Italia.

Sebanyak sekitar 1,92 ton kopi Kepahiang dikirim ke Italia. Ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi perkembangan industri kopi lokal sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk UMKM Bengkulu untuk bersaing di pasar global.

Langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kopi Starbucks Kepahiang yang dikembangkan oleh Ardan. Produk yang dikembangkan mencakup kopi arabika dan robusta dengan karakter khas kopi Sumatera.

Bagi Ardan, kopi memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar apabila dikembangkan secara serius. Bukan hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga membangun kualitas, pengolahan, identitas produk hingga memperluas jaringan pemasaran.

Kopi Sumatra yang diambil dari Medan didistribusikan ke seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia,” ujar Ardan.

Peluang tersebut menjadi gambaran bahwa kopi dari Sumatera memiliki pasar yang luas. Namun, untuk dapat bertahan di pasar internasional, kualitas produk harus dijaga secara konsisten, mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga produk siap dipasarkan.

Potensi Kopi Kepahiang Menembus Pasar Dunia

Kepahiang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi. Berada di kawasan dataran tinggi Bengkulu, kopi telah menjadi bagian dari aktivitas perkebunan sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Arabika dan robusta menjadi dua jenis kopi yang terus dikembangkan. Masing-masing memiliki karakter dan segmen penikmat tersendiri.

Di balik secangkir kopi terdapat rantai usaha yang cukup panjang. Mulai dari petani yang menghasilkan biji kopi, pengolah, roaster, pemilik merek, pelaku kedai hingga distributor.

Setiap tahapan tersebut memiliki peluang untuk menciptakan nilai tambah.

Karena itu, ekspor perdana ke Italia tidak semata-mata dilihat dari jumlah kopi yang dikirim. Momentum tersebut menjadi sinyal bahwa produk kopi lokal memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas apabila kualitas dan pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan.

Dibina untuk Naik Kelas

Pertumbuhan usaha Kopi Starbucks Kepahiang juga tidak terlepas dari proses pembinaan UMKM. Usaha tersebut menjadi salah satu UMKM lokal binaan Bank Indonesia Bengkulu, yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha dan memperluas akses pasar.

Pembinaan UMKM menjadi penting karena persaingan produk saat ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan barang, tetapi juga kualitas, kemasan, branding dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

Kondisi ini sekaligus menjadi peluang bagi Bengkulu untuk memperkuat ekosistem industri kopi dari hulu hingga hilir.

Semakin banyak pelaku usaha yang mengembangkan produk kopi dengan identitas masing-masing, semakin besar pula peluang Bengkulu memiliki kekuatan sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang diperhitungkan.

Geliat tersebut terlihat dalam kegiatan coffee tasting yang turut memperkenalkan sejumlah produk kopi lokal, di antaranya Pasar Coffee, Bermani Coffee, Roda Coffee, Lestari Coffee, Mister Coffee dan Air Lanang Coffee.

Kehadiran berbagai merek tersebut memperlihatkan bahwa kopi lokal Bengkulu tidak berhenti pada produksi biji, tetapi mulai dikembangkan menjadi produk dengan karakter dan identitas masing-masing.

Kualitas Kopi Dimulai dari Cara Penyajian

Pengembangan industri kopi juga tidak dapat dilepaskan dari edukasi kepada konsumen. Melalui kegiatan coffee tasting, peserta diperkenalkan dengan berbagai aspek dasar dalam menyeduh kopi agar karakter rasa dapat keluar secara optimal.

Takaran kopi dan air, tingkat kehalusan gilingan hingga suhu air menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi hasil seduhan.

Salah satu contoh takaran yang diperkenalkan yakni sekitar 15 gram kopi untuk 270 mililiter air. Sementara untuk metode French press, kopi umumnya menggunakan tingkat gilingan yang lebih kasar.

Kualitas air juga menjadi bagian penting. Kandungan mineral serta temperatur air dapat memengaruhi proses ekstraksi dan karakter rasa yang dihasilkan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas kopi tidak berhenti ketika biji keluar dari kebun. Ada proses panjang yang menentukan perjalanan kopi hingga akhirnya tersaji dalam satu cangkir.

Dari Kepahiang untuk Dunia

Ekspor perdana ke Italia menjadi langkah awal bagi kopi Kepahiang untuk memperluas pasar. Ke depan, tantangan yang harus dijaga adalah konsistensi kualitas, kontinuitas produksi serta kemampuan membangun jaringan pasar yang berkelanjutan.

Jika peluang tersebut dapat dikembangkan dengan baik, industri kopi tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, tetapi juga membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi petani dan masyarakat.

Kopi dapat menjadi penghubung antara sektor perkebunan, UMKM, perdagangan hingga pariwisata.

Lebih dari sekadar komoditas, kopi Kepahiang membawa cerita tentang daerah penghasil, kerja keras petani dan kreativitas pelaku usaha dalam mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah.(TB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *