Bengkulu, tintabangsa.com– Rumah Moderasi Beragama ialah salah satu upaya untuk melakukan pencegahan radikalisme, hal itu diungkapkan Rektor IAIN Bengkulu Prof Dr Sirajuddin dalam kegiatan Seminar dan Dialog tentang Pencegahan Dini Radikalisme dalam rangakaian Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Provinsi Bengkulu, di Aula Taman Wisata Mangrove Bhadrika, Sabtu (17/4/2021).

Selain itu Rektor mengungkapkan penyebab paham tersebut muncul adalah ketidakadilan, diskriminasi, dan sifat tercela. Tidak jarang bahkan mereka terpengaruh karena persoalan ekonomi.

Rumah Moderasi Beragama merupakan salah satu dari Enam Program Prioritas Kemenag meliputi:

Penguatan Moderasi Beragama di internal Kementerian Agama dan masyarakat, Transformasi Digital untuk layanan publik dan kinerja aparatur, Revitalisasi KUA sebagai etalase layanan keagamaan, Kemandirian Pesantren agar pesantren memiliki sumber daya ekonomi yang kuat dan berkelanjutan sehingga dapat menjalankan fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat secara optimal

Cyber Islamic University untuk memberikan akses pendidikan berkualitas dan merata

Religiosity Index sebagai alat ukur untuk menjadikan Indonesia sebagai barometer kualitas ukhuwah islamiyah, wathoniyah dan basyariyah.

Seperti diketahui transformasi IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu akan terwujud dalam waktu dekat, menunggu Perpres yang akan ditandatangani Presiden.

Hadir dalam kesempatan yang sama Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Dr H Zahdi Taher M.HI, yang mengatakan bahwa melawan gerakan radikalisme membutuhkan kerjasama, kolaborasi dan sinergi. Melalui kerjasama, Zahdi optimis akan terjaga stabilitas, ketenangan dan keamanan dikehidupan masyarakat.

Dr Zubaedi dari Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Provinsi Bengkulu memaparkan varian gejalan radikalisme kini banyak muncul di kalangan milenial, ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh FKPT.

Kompol Florentus Situngkir S.IK Kasubdit 5 Dir Intelkam mewakili Kapolda Bengkulu mengungkapkan radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Sementara itu Wibowo Susilo Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bengkulu menegaskan, PMII merupakan garda terdepan dalam mencegah dan memerangi radikalisme. “PMII yang lahir dari rahim NU tidak pernah absen dalam perang melawan radikalisme, baik itu ada biaya tidak ada biaya.

Kegiatan itu dihadiri sejumlah alumni PMII dari berbagai kalangan serta para kader dan anggota PMII di Bengkulu. Sebelum acara berbuka puasa bersama, dilakukan potong tumpeng oleh Ketua PW IKA PMII Bengkulu Subhan Amin dan para alumni PMII. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here