BENGKULU, TINTABANGSA.COM – Bank Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar semakin bangkit, tangguh, berdaya saing, serta mampu naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
KKI 2026 mengusung semangat “BeudayaMeusareSare” dari Aceh yang bermakna berdaya dan bersama-sama. Tahun ini, KKI juga diarahkan untuk mendorong pemulihan dan kebangkitan UMKM di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam.
Gelaran KKI 2026 dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming. Turut hadir Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Putri serta Anggota Dewan Komisioner LPS Doddy Zulverdi.
Tahun ini, KKI diikuti lebih dari 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM melalui kanal daring, meningkat dibandingkan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.
Berbagai kegiatan digelar dalam KKI 2026, mulai dari talkshow ekonomi dan keuangan inklusif, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan dan ekspor, showcase UMKM unggulan, hingga promosi pariwisata dan produk lokal.
Produk UMKM yang ditampilkan juga sangat beragam, meliputi wastra, ready to wear, aksesori, home decor, kopi, makanan dan minuman olahan, hingga atraksi desa wisata.
Dorong UMKM Bangkit dan Berdaya Saing
Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, Bank Indonesia menggandeng 27 kementerian/lembaga dan 34 mitra strategis.
Sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat daya saing UMKM, memperluas akses pembiayaan, mempercepat digitalisasi serta membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry Damayanti saat membuka KKI 2026.
Bank Indonesia menilai UMKM memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Dengan sekitar 64 juta pelaku usaha, sektor UMKM disebut menyerap 97 persen tenaga kerja dan berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional.
Karena itu, pengembangan UMKM diarahkan melalui penguatan kapasitas dan skala usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta percepatan digitalisasi.
Gerakan Korporasi Gandeng UMKM
Upaya mendorong UMKM naik kelas juga diperkuat melalui Gerakan Korporasi Gandeng UMKM.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono menegaskan, kemitraan dengan korporasi dapat menjadi pengungkit bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitas, memperluas jaringan usaha, sekaligus mempercepat adopsi teknologi.
Dalam KKI 2026, Bank Indonesia menargetkan fasilitasi business matching omzet dan ekspor mencapai Rp446,9 miliar. Sementara business matching pembiayaan, termasuk pembiayaan hijau, ditargetkan mencapai Rp212,8 miliar.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat UMKM hingga mampu masuk ke dalam rantai nilai perusahaan besar dan berkembang menjadi pelaku usaha dengan skala lebih tinggi.
UMKM Bengkulu Catat Transaksi Rp955,49 Juta
Dukungan terhadap UMKM juga ditunjukkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu dengan memfasilitasi UMKM binaan unggulan untuk tampil dalam KKI 2026.
Hasilnya, UMKM binaan Bank Indonesia Bengkulu membukukan total transaksi penjualan sebesar Rp955.491.033 melalui partisipasi pada pameran luring maupun kanal virtual KKI 2026.
Sebanyak 32 UMKM unggulan Bengkulu ambil bagian secara daring melalui website KKI 2026. Dari jumlah tersebut, enam UMKM hadir langsung di JICC, terdiri dari dua UMKM wastra serta empat UMKM makanan dan minuman.
Untuk kategori wastra, Batik Kagano menampilkan beragam kain khas Bengkulu. Sementara Swarnabumei menghadirkan produk ready to wear dengan mengangkat identitas lokal melalui motif besurek dan bunga rafflesia.
Di sektor makanan dan minuman, UMKM Bengkulu yang tampil antara lain CV Jaya Rasa Bengkulu, Giwigewi, Kerupuk Keite, dan Sari Aren.
Tidak hanya melalui pameran, Bank Indonesia Bengkulu juga membuka peluang perluasan pasar melalui business matching ekspor.
Salah satu capaian datang dari Kopi Bukit Barisan yang berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee untuk pembelian awal sebanyak 500 kilogram Kopi Robusta Bengkulu, dengan nilai kontrak awal mencapai Rp35,5 juta.
Selain Kopi Bukit Barisan, UMKM Bengkulu yang mengikuti business matching antara lain Pak Sahid Coffee, Lestari Coffee dan CV Jaya Rasa Bengkulu.
BI Bengkulu: Produk Lokal Siap Masuk Rantai Korporasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan partisipasi UMKM Bengkulu dalam KKI 2026 menjadi bukti bahwa produk lokal memiliki potensi untuk bersaing di tingkat nasional hingga global.
“Kehadiran 32 UMKM Bengkulu di KKI 2026, baik di sektor wastra, kriya, makanan dan minuman maupun kuliner, adalah manifestasi dari program pembinaan yang konsisten. Capaian transaksi dan penandatanganan kontrak kemitraan di hari pertama ini menjadi bukti nyata bahwa produk kopi Bengkulu dan UMKM lainnya mampu merespons Gerakan Korporasi Gandeng UMKM secara nyata,” ujar Wahyu.
Menurutnya, UMKM Bengkulu kini semakin siap untuk naik kelas, mendapatkan akses pembiayaan yang lebih luas dan masuk ke dalam rantai nilai berskala nasional.
KPw BI Provinsi Bengkulu pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem UMKM yang sehat dan berkelanjutan.
Sinergi antara korporasi, perbankan dan pelaku usaha daerah dinilai menjadi kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh, berkembang dan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah maupun nasional.(TB)

