BI Bengkulu Genjot Investasi dan Ekspor, BRIEF 2026 Bidik Peluang Pasar Internasional

BENGKULU, Tintabangsa.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu mendorong perluasan investasi dan pasar ekspor sebagai langkah memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Melalui Bencoolen Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026, BI mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, serta mitra internasional untuk membuka peluang kerja sama bisnis lintas negara.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan mitra internasional agar potensi ekonomi Bengkulu dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis yang konkret.

Forum bertema “Connecting Opportunities, Driving Economic Transformation” tersebut berlangsung di Mercure Hotel Bengkulu, Senin (12/10/2026), dan menjadi wadah promosi potensi investasi serta perdagangan daerah kepada calon investor dan mitra usaha dari Tunisia, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, dan Malaysia.

Menurut Wahyu, penguatan investasi tidak dapat dipisahkan dari upaya memperluas perdagangan. Produk unggulan daerah membutuhkan promosi yang terarah, akses pasar yang lebih luas, serta jaringan bisnis yang mampu menghubungkan pelaku usaha lokal dengan pembeli dan mitra potensial di luar negeri.

“Penguatan investasi dan perdagangan perlu berjalan beriringan. Potensi daerah harus didukung dengan promosi yang tepat, perluasan akses pasar, serta kolaborasi yang mampu menghubungkan pelaku usaha lokal dengan peluang bisnis yang lebih luas,” ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, BRIEF 2026 dirancang sebagai momentum untuk mempertemukan potensi usaha Bengkulu dengan kebutuhan investor. Melalui pertemuan tersebut, peluang kerja sama diharapkan berkembang menjadi kemitraan yang mampu memperkuat kapasitas usaha, meningkatkan daya saing produk, dan membuka akses ke pasar internasional.

Peluang ekspor Bengkulu tercermin dari data perdagangan nonmigas periode Januari–Agustus 2026 yang dipaparkan dalam forum. India tercatat sebagai negara tujuan ekspor utama dengan nilai US$21,97 juta, meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar US$13,46 juta.

Pakistan juga menunjukkan peningkatan nilai ekspor dari Bengkulu. Pada Januari–Agustus 2026, nilainya mencapai US$9,32 juta, naik dari US$3,68 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, perkembangan ekspor ke sejumlah tujuan lainnya masih menghadapi tantangan. Nilai ekspor ke Filipina tercatat US$7,77 juta, turun dibandingkan US$9,79 juta pada Januari–Agustus 2025. Ekspor ke kawasan ASEAN juga menurun dari US$29,62 juta menjadi US$11,59 juta pada periode yang sama.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Bengkulu untuk memperluas jaringan perdagangan dan menjajaki pasar alternatif. Dengan diversifikasi tujuan ekspor, pelaku usaha diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memasarkan produk unggulan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.

Selain perdagangan, BI juga menaruh perhatian pada pengembangan investasi sebagai penggerak aktivitas ekonomi produktif. Dalam pembukaan BRIEF 2026, Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, menyampaikan bahwa investasi berperan dalam meningkatkan kapasitas produksi, membuka lapangan kerja, dan mendorong transformasi ekonomi daerah yang lebih berdaya saing serta berkelanjutan.

Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi Provinsi Bengkulu mencapai Rp2,85 triliun atau 49,67 persen dari target tahunan sebesar Rp5,75 triliun.

Pemerintah Provinsi Bengkulu, menurut Mian, berkomitmen memberikan kemudahan pelayanan dan mengawal proses investasi melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), mulai dari tahapan perizinan hingga realisasi penanaman modal.

Mian juga menegaskan keterbukaan pemerintah daerah terhadap investor dalam maupun luar negeri. Investasi yang masuk diharapkan dapat memperkuat sektor produktif, mengembangkan usaha lokal, serta meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Bengkulu.

Melalui BRIEF 2026, Bank Indonesia berharap keterhubungan antara investor, pemerintah, dan pelaku usaha semakin kuat. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepakatan bisnis, tetapi juga memperluas pasar ekspor, mendorong realisasi investasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi Bengkulu.(TB)

Komentar