Beberapa waktu yang lalu pemerintah Provinsi Bengkulu melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi Provinsi Bengkulu mengadakan gelaran Job Fair Loker Merah Putih yang bertempat di Balai Raya Semarak, rumah dinas Gubernur Bengkulu. kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan akses bagi para pencari kerja yang ada di Provinsi Bengkulu. Gelaran job fair ini disambut begitu antusias oleh ribuan para pencari kerja, 3000 orang para pencari ikut hadir mencoba peruntungan untuk mendapatkan pekerjaan. Melihat begitu banyaknya ribuan pencari kerja yang hadir, muncul suatu pertanyaan seperti apa kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Bengkulu ? lalu sebegitu sulitkah mencari pekerjaan di Provinsi Bengkulu ?.
Pada awal bulan Mei 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu telah merilis angka tentang keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Bengkulu pada kondisi bulan Februari 2025, dalam rilisnya disebutkan bahwa Penduduk usia kerja merupakan semua orang yang berumur 15 tahun ke atas. Penduduk usia kerja mengalami tren yang cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Provinsi Bengkulu. Penduduk usia kerja pada Februari 2025 sebanyak 1.597.188 orang, naik sebanyak 23.500 orang jika dibanding Februari 2024. Sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja yaitu 71,50 persen (1.142.038 orang), sisanya 28,50 persen (455.150 orang) termasuk bukan angkatan kerja. Komposisi angkatan kerja pada Februari 2025 terdiri atas 1.105.046 orang penduduk yang bekerja dan 36.992 orang pengangguran. Apabila dibandingkan Februari 2024, jumlah angkatan kerja naik sebanyak 25.900 orang. Penduduk bekerja naik sebanyak 24.302 orang dan jumlah pengangguran juga mengalami peningkatan sebanyak 1.598 orang.
Peningkatan jumlah pencari kerja sayangnya tidak diiringi dengan bertambahnya jumlah lapangan kerja yang ada di Provinsi Bengkulu. Lapangan pekerjaan yang ada belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja yang ada, akibatnya jumlah pengangguran mengalami peningkatan. Masih sedikitnya perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Bengkulu dan masih minimnya pengembangan sektor industri yang ada menyebabkan masih rendahnya penyerapan tenaga kerja. Sehingga tak heran jika sebagian besar ekonomi Bengkulu masih mengandalkan pada sektor pertanian, perikanan dan perkebunan. Sektor pertanian masih mendominasi lapangan kerja di Provinsi Bengkulu, hampir setengah dari jumlah penduduk di Provinsi Bengkulu bekerja di sektor pertanian, hal ini terlihat dari catatan BPS pada Februari 2025 sebesar 44,27 persen penduduk di Provinsi Bengkulu bekerja disektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.
Belum berkembangnya industri kreatif juga menjadi salah satu penyebab mengapa penduduk di Provinsi Bengkulu masih dominan bergantung pada sektor pertanian. Mengembangkan Industri Kreatif memang bukanlah sesuatu yang mudah, terkadang masyarakat telah mempunyai ide kreatifitas namun terkendala dalam segi permodalan, sehingga masyarakat sulit untuk mengembangkan ide dan usaha mereka, selain itu industri kreatif sangat bergantung pada tren yang terkadang begitu cepat mengalami perubahan, maka tidak heran jika para pencari kerja enggan berkecimpung di industri kreatif dan cenderung memilih bekerja sebagai buruh karyawan, hal ini terlihat dari catatan BPS dimana pada Februari 2025, penduduk yang bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai sebesar 31,64 persen.
Ketidaksesuaian pendidikan, keterampilan dengan Kebutuhan Industri juga menyebabkan kesulitan bagi para pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini terlihat ketika pemerintah Provinsi Bengkulu melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi Provinsi Bengkulu mengadakan gelaran Job Fair Loker Merah Putih, dari total 3000 pelamar yang mengikuti bursa kerja, baru 150 orang yang diterima bekerja di perusahaan. Belum maksimalnya serapan tenaga kerja ini disebabkan lowongan kerja yang dibuka tidak sesuai dengan kriteria pelamar. Dinas tenaga kerja dan transmigrasi Provinsi Bengkulu menyebutkan, sebagian besar lowongan pekerjaan yang dibuka ditujukan bagi lulusan SMA di bidang perkebunan. Sementara itu setengah dari jumlah pelamar yang mengikuti bursa kerja merupakan lulusan sarjana, sedangkan lowongan pekerjaan yang tersedia tidak memerlukan kualifikasi pendidikan tinggi seperti lulusan sarjana, lapangan pekerjaan yang tersedia masih terbatas untuk untuk pekerjaan di bidang produksi yang bisa terpenuhi dari lulusan SMA/SMK, seperti pekerja gudang, operator mesin, buruh pabrik, sales, penjaga toko. Posisi ini biasanya lebih mengutamakan keterampilan teknis atau pengalaman kerja langsung dibandingkan gelar sarjana.
Sulitnya menciptakan lapangan pekerjaan dengan semua kendala yang mengikutinya tentu akan menjadi permasalahan jika tidak segera diambil upaya-upaya yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Kesulitan pekerja memperoleh pekerjaan di Provinsi Bengkulu perlu ditelaah bersama, tidak hanya pihak pemerintah daerah, namun seluruh stakeholder, bahkan masyarakat luas diharapkan dapat berpartisipasi untuk memberikan suatu solusi yang dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut. Faktor permodalan menjadi penentu untuk seseorang memulai suatu usaha, diperlukan modal yang cukup untuk membeli peralatan dan bahan baku, tanpa adanya modal yang mencukupi sulit rasanya untuk memulai usaha sendiri. Sementara itu, akses untuk mendapatkan kredit usaha dari lembaga keuangan masih dirasa cukup sulit, persyaratan jaminan yang sulit dipenuhi seringkali menjadi kendala yang mengakibatkan mereka tidak mendapatkan modal untuk memulai usaha. Perlunya Regulasi dan kebijakan pemerintah daerah yang dapat mendukung iklim usaha dan investasi agaknya bisa menjadi solusi dalam menciptakan lapangan kerja.
Provinsi Bengkulu sebenarnya masih memiliki peluang mencari sumber perekonomian baru, tidak hanya mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan, tetapi bisa memanfaatkan potensi pariwisata yang ada. Potensi sektor pariwisata yang ada belum begitu dioptimalkan keberadaannya, masih sangat kurangnya infrastruktur penunjang dan belum dikelola secara profesional menyebabkan sektor pariwisata belum berkembang pesat seperti di daerah lain. Kurangnya promosi secara luas potensi pariwisata yang ada di Provinsi Bengkulu, menyebabkan Provinsi Bengkulu belum begitu dikenal di kancah nasional. Seandainya potensi pariwisata ini dapat mendatangkan investasi dari luar, tentunya bukan hanya sektor pariwisata saja yang akan berkembang, sektor ekonomi dari usaha kecil dan menengah (UMKM) akan ikut terdampak, begitu juga dengan sektor ekonomi kreatif akan ikut merasakan juga dampak kumulatif yang dihasilkan, sehingga harapan untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi para pencari kerja akan dapat terwujud.
Oleh : Ardiansyah, SE (ASN BPS Provinsi Bengkulu)