Mukomuko, tintabangsa.com – Kepala Desa (Kades) Pulai Payung, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, Mustarrudin, SE, mengaku optimis bahwa Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di desanya akan maju dan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat.
“Kalau saya optimis KDMP ini akan maju. Karena kita punya target 20% keuntungan KDMP itu untuk PAD desa,” kata Mustarrudin, SE, kepada tintabangsa.com saat ditemui di Desa Pulai Payung, pada Kamis (5/2/2026).
Mustarrudin, yang baru 4 tahun menjabat jadi Kades di Desa Pulai Payung menambahkan, KDMP ini tentu akan maju dan berkembang jika pengurus berorientasi membangun usaha atau bisnis karena koperasi tersebut adalah badan hukum yang menjalankan kegiatan usaha untuk melayani anggota dan meningkatkan kesejahteraan anggota.
“Kalau membangun bangunannya itu gampang, tapi untuk membangun usahanya itu yang sulit. Makanya kalau mau maju Kita harus mencari pengurus KDMP itu orang- orang yang orientasi berpikirnya itu untuk bangun usaha atau bisnis bukan mencari pekerjaan. Kalau pekerjaan itu orientasi gaji, orang bekerja itu yang dicari kan digaji. Beda dengan membangun bisnis, dapat gaji ketika ada untung,” jelasnya.
Pria yang dikenal Kalam dan kompak dengan semua perangkat desanya memaparkan, langkah strategis yang dilakukan untuk memajukan koperasi di Desa Pulai Payung salah satunya adalah MBG.
“Dalam MBG itu kan ada minyak, telur, gula, sayur dan lain sebagainya. Berbagai macam kebutuhan tersebut nanti masuk ke MBG harus melalui koperasi. Misalnya agen telur dari Padang tidak bisa langsung mengisi telur ke MBG tapi harus lewat koperasi dulu,” lanjutnya.
Bukan itu saja kata Mustarrudin, masyarakat di desa yang mau pesta misalnya, mereka akan diarahkan belanjanya ke koperasi.
Langkah lain, masyarakat akan diarahkan untuk menanam sayur organik, hasilnya panennya nanti dipasarkan lewat koperasi.
“Disamping itu nanti kan ada juga agen BRI, agen Mandiri, agen BSI, dan agen Pos, nanti transaksi keuangan semuanya itu lewat koperasi. Contoh, pembayaran gaji perangkat desa nanti kan tidak kes lagi tapi lewat rekening koperasi,” urainya.
Adapun langkah strategis lainnya lanjut Kades sesuai dengan gerai KDMP yaitu apotik, usaha pupuk, Sembako, usaha pangkalan LPG, Simpan Pinjam, dan jenis usaha lainya.
“Apotik kita kerjasama dengan klinik. Pupuk, yang jelas kita mengcover se kecamatan Ipuh. Gerai Sembako dan simpan pinjam, serta produk- produk BUMDES nanti akan kita masukkan juga ke koperasi,” cetusnya.
Kata Mustarrudin, mengantisipasi agar pelaku UMKM di pasar maupun di desa tidak merugi, koperasi harus berinovasi. Dagang sayur misalnya, sayur di pasar nanti akan dibeli oleh koperasi. Sayur yang dibeli itu akan dibersihkan dikemas dalam plastik, dimasukkan ke ruang pendingin lalu koperasi yang menjual ke MBG dan masyarakat.
“Sementara untuk Sembako nanti, koperasi bisa jadi agen. Misal, agen Indomarco masuk ke koperasi, jadi para pelaku UMKM ini nanti bisa beli ke koperasi, harga sama dengan harga agen yang masuk tadi. Harga barang yang diambil dari agen lebih murah tapi harga penjualan UMKM dengan koperasi sama. Jadi tidak ada pengaruhnya ke para pedagang itu. Koperasi itu kan biar untung kecil tapi lancar,” terangnya.
Lebih menariknya lagi kata Kades,
koperasi itu memperpendek mata rantai jalur distribusi, nanti bisa buka program pembiayaan, misalnya beli motor. Koperasi beli kes ke Honda untuk dijual secara kredit oleh koperasi.
“Membiayai pelaku UMKM TPS3R juga bisa. Misal, untuk buat pupuk, hasilnya nanti dipasarkan lewat koperasi. Masih banyak barang masyarakat yang bisa dijual lewat koperasi termasuk mebel, dan lain sebagainya. Jadi Kalau saya tidak ragu lagi, karena saya sudah pernah nyoba program desa mulai program pengelolaan sampah, pengelolaan pasar dan program lain yang sudah di jalankan, padahal lebih berat dari pada menjalankan koperasi tapi bisa,” lanjutnya.
Mustarrudin, mengatakan, dengan adanya KDMP ini sebenarnya desa diuntungkan krena pembangunan dikasih, kendaraan dikasih, barang dan fasilitas dikasih, modal dikasih, bank pun mau bantu, dan aturan hukum pun sudah jelas tinggal menjalankan.
“Jadi apa susahnya. Orang buka usaha paling berat itu sewa tempat. Buka usaha di pinggir jalan itu sewa ruko saja bisa mencapai Rp. 20 juta bahkan Rp. 30 juta per tahun, harus gaji kariawan lagi dan modal pinjam bank, tapi banyak juga yang sukses. Kenapa koperasi tidak, kan begitu.” Pungkasnya.
Sekedar untuk diketahui, dari 70.000 koperasi desa dan kelurahan merah putih se Indonesia, 130 diantaranya dilaunching langsung oleh presiden, salah satunya adalah KDMP Desa Pulai Payung.(AS/TB).

